Memiliki banyak pelanggan belum tentu berarti sebuah usaha sudah sehat secara finansial.
Tidak sedikit pelaku UMKM yang mengalami masalah bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena pengelolaan uangnya belum tertata.
Uang bisnis bercampur dengan uang pribadi. Penjualan tidak dicatat. Stok tidak dihitung dengan benar. Keuntungan tidak diketahui. Ketika membutuhkan tambahan modal, pemilik usaha akhirnya kesulitan menunjukkan kondisi keuangannya.
Padahal, pencatatan keuangan yang baik dapat membantu pelaku usaha memahami kondisi bisnis dan menjadi salah satu bagian penting dalam mempersiapkan akses pembiayaan.
Bank Indonesia juga mendorong digitalisasi UMKM melalui pencatatan keuangan, akses pasar digital, dan akses pembiayaan.
Lalu, bagaimana cara mengelola keuangan UMKM agar lebih sehat?
Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Usaha
Ini adalah salah satu langkah paling dasar, tetapi masih sering diabaikan.
Misalnya, hari ini usaha mendapatkan omzet Rp1 juta.
Bukan berarti pemilik usaha memiliki Rp1 juta yang bisa langsung digunakan.
Dari angka tersebut masih ada:
- Modal barang
- Biaya operasional
- Gaji
- Transportasi
- Kemasan
- Biaya platform
- Pajak atau kewajiban lainnya
- Keuntungan
Karena itu, pisahkan rekening atau tempat penyimpanan uang bisnis dengan uang pribadi.
Catat Semua Pemasukan dan Pengeluaran
Jangan hanya mencatat transaksi besar.
Catat juga pengeluaran kecil.
Contohnya:
- Plastik
- Kemasan
- Ongkos kirim
- Biaya admin
- Pulsa
- Internet
- Transportasi
- Biaya marketplace
- Bahan baku
Pengeluaran kecil yang terjadi terus-menerus dapat memberikan dampak cukup besar terhadap keuntungan.
Kenali Omzet, Modal, dan Laba
Tiga angka ini sering dianggap sama, padahal berbeda.
Omzet adalah total penjualan.
Modal adalah dana yang digunakan untuk menjalankan usaha.
Laba adalah keuntungan setelah pendapatan dikurangi biaya yang relevan.
Contoh sederhana:
Penjualan: Rp10 juta
Total biaya: Rp7 juta
Maka laba sebelum komponen biaya lainnya yang relevan adalah sekitar Rp3 juta.
Jadi, jangan menganggap seluruh omzet sebagai keuntungan.
Hitung Harga Pokok dengan Benar
Kesalahan menentukan harga dapat membuat bisnis terlihat ramai tetapi sebenarnya menghasilkan keuntungan yang terlalu kecil.
Misalnya Anda menjual makanan seharga Rp25.000.
Namun, biaya bahan, kemasan, gas, biaya platform, dan biaya lainnya ternyata mencapai Rp22.000.
Secara sederhana, margin yang tersisa hanya Rp3.000 sebelum memperhitungkan biaya lain.
Karena itu, sebelum menentukan harga jual, hitung seluruh biaya yang berkaitan dengan produk.
Buat Dana Cadangan untuk Bisnis
Seperti keuangan pribadi, bisnis juga membutuhkan dana cadangan.
Dana ini dapat digunakan ketika:
- Penjualan menurun
- Harga bahan baku meningkat
- Peralatan rusak
- Ada kebutuhan operasional mendadak
- Terjadi kondisi pasar yang tidak terduga
Dengan adanya cadangan, bisnis tidak langsung bergantung pada pinjaman ketika menghadapi masalah.
Gunakan Pembayaran Digital Secara Strategis
Pembayaran digital sudah menjadi bagian penting dari ekosistem UMKM.
QRIS, misalnya, semakin luas digunakan oleh pelaku usaha. Hingga Juni 2026, 96,68% dari 44,86 juta merchant QRIS merupakan UMKM.
Selain memberikan pilihan pembayaran kepada pelanggan, transaksi digital juga dapat membantu menciptakan rekam jejak transaksi usaha.
Namun, tetap lakukan rekonsiliasi dan pencatatan.
Jangan beranggapan bahwa karena transaksi sudah digital, maka laporan keuangan otomatis sudah beres.
Mulai Menggunakan Pencatatan Digital
Anda tidak harus langsung menggunakan software akuntansi yang kompleks.
Untuk tahap awal, spreadsheet sederhana juga bisa digunakan.
Minimal, buat empat kolom:
| Tanggal | Keterangan | Pemasukan | Pengeluaran |
|---|---|---|---|
| 1 Sept | Penjualan | Rp500.000 | – |
| 1 Sept | Bahan baku | – | Rp200.000 |
| 2 Sept | Penjualan | Rp750.000 | – |
Dengan pencatatan seperti ini, Anda mulai memiliki gambaran mengenai arus uang usaha.
Gunakan Data untuk Mengambil Keputusan
Pencatatan bukan hanya untuk mengetahui berapa uang yang tersisa.
Data dapat membantu menjawab pertanyaan seperti:
Produk apa yang paling laku?
Produk apa yang paling menguntungkan?
Kapan penjualan paling tinggi?
Biaya apa yang paling besar?
Apakah omzet meningkat?
Apakah laba benar-benar meningkat?
Dari sinilah pemilik usaha dapat mengambil keputusan yang lebih berdasarkan data.
Persiapkan Bisnis Sebelum Mengajukan Pembiayaan
Ketika bisnis membutuhkan modal tambahan, pencatatan keuangan menjadi semakin penting.
Calon pemberi pembiayaan tentu ingin mengetahui kondisi usaha.
Karena itu, biasakan menyimpan:
- Catatan penjualan
- Catatan pengeluaran
- Rekening transaksi usaha
- Data stok
- Laporan sederhana
- Dokumen legalitas usaha
- Data pelanggan jika relevan
Semakin tertata bisnis Anda, semakin mudah menjelaskan kondisi usaha ketika membutuhkan pembiayaan.
Bank Indonesia juga menyoroti bahwa digitalisasi pembayaran dapat membantu membangun rekam jejak usaha dan mendukung ekosistem pembiayaan UMKM.
Apakah UMKM Harus Langsung Meminjam Modal?
Tidak selalu.
Sebelum mengambil pinjaman, tanyakan:
Untuk apa dana tersebut digunakan?
Jika jawabannya adalah untuk membeli peralatan yang meningkatkan kapasitas produksi atau membuka peluang pasar baru, lakukan perhitungan terlebih dahulu.
Misalnya:
Modal tambahan: Rp20 juta
Pertanyaan yang harus dijawab:
- Berapa tambahan omzet yang diperkirakan?
- Berapa tambahan biaya operasional?
- Berapa keuntungan tambahan?
- Berapa cicilan?
- Apakah bisnis tetap mampu membayar cicilan jika penjualan turun?
Pinjaman sebaiknya menjadi alat untuk mendukung bisnis, bukan solusi untuk menutupi bisnis yang belum memiliki arus kas sehat.
Checklist Keuangan UMKM
Sebelum mengatakan bisnis Anda sudah tertata, coba cek:
☐ Uang pribadi dan bisnis sudah dipisahkan
☐ Semua transaksi dicatat
☐ Omzet diketahui
☐ Biaya usaha diketahui
☐ Laba dapat dihitung
☐ Stok dipantau
☐ Ada dana cadangan
☐ Rekening usaha digunakan secara konsisten
☐ Dokumen bisnis tersimpan rapi
☐ Penggunaan pinjaman sudah diperhitungkan
Penutup
Bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang ramai.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mengetahui berapa uang yang masuk, berapa yang keluar, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh.
Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar untuk mulai melakukan pencatatan.
Justru bisnis kecil yang mulai tertata sejak awal akan memiliki fondasi yang lebih baik ketika ingin berkembang.
Mulai dari mencatat. Kemudian pahami angkanya. Setelah itu, gunakan data untuk mengambil keputusan.
