Bisnis yang memiliki banyak pelanggan belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat.
Mengapa?
Karena penjualan dan uang tunai yang tersedia bukanlah hal yang sama.
Sebuah usaha dapat mencatat penjualan Rp50 juta, tetapi jika sebagian besar pelanggan belum membayar, uang yang benar-benar tersedia mungkin jauh lebih kecil.
Inilah alasan cash flow bisnis menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh pemilik usaha.
Apa Itu Cash Flow?
Cash flow atau arus kas adalah pergerakan uang yang masuk dan keluar dari bisnis.
Secara sederhana:
Cash Inflow
Uang yang masuk.
Contohnya:
- Penjualan.
- Pembayaran pelanggan.
- Modal.
- Pendapatan lainnya.
Cash Outflow
Uang yang keluar.
Contohnya:
- Pembelian bahan.
- Gaji.
- Sewa.
- Listrik.
- Transportasi.
- Marketing.
- Cicilan.
Jika uang yang masuk lebih besar daripada uang yang keluar dalam periode tertentu, arus kas berada dalam kondisi positif.
Sebaliknya, jika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, bisnis mengalami arus kas negatif.
Mengapa Cash Flow Penting?
Bayangkan sebuah bisnis mendapatkan pesanan besar.
Nilai pesanan:
Rp100 juta
Namun pelanggan baru membayar 60 hari kemudian.
Sementara bisnis harus membeli bahan baku:
Rp50 juta
dan harus membayar supplier dalam 14 hari.
Bisnis mungkin mendapatkan keuntungan dari transaksi tersebut.
Tetapi sebelum pembayaran pelanggan diterima, bisnis tetap membutuhkan uang untuk menjalankan operasional.
Inilah mengapa cash flow berbeda dengan keuntungan.
1. Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Bisnis
Ini merupakan langkah penting bagi pemilik UMKM.
Jika semua uang berada dalam satu rekening, pemilik usaha akan kesulitan mengetahui kondisi sebenarnya.
Buat pemisahan:
Rekening bisnis
untuk aktivitas usaha.
Rekening pribadi
untuk kebutuhan pribadi.
Dengan pemisahan tersebut, pencatatan menjadi lebih mudah.
2. Catat Semua Uang Masuk
Setiap pemasukan perlu dicatat.
Contohnya:
| Sumber | Nominal |
|---|---|
| Penjualan Produk A | Rp5 juta |
| Penjualan Produk B | Rp3 juta |
| Pembayaran pelanggan | Rp2 juta |
Total:
Rp10 juta
Tidak perlu langsung menggunakan software akuntansi yang kompleks.
Spreadsheet sederhana sudah cukup untuk memulai.
3. Catat Semua Pengeluaran
Lakukan hal yang sama untuk uang keluar.
Misalnya:
| Pengeluaran | Nominal |
|---|---|
| Bahan baku | Rp3 juta |
| Gaji | Rp2 juta |
| Sewa | Rp1 juta |
| Marketing | Rp500 ribu |
Total:
Rp6,5 juta
Maka arus kas periode tersebut:
Rp10 juta – Rp6,5 juta = Rp3,5 juta
Perhitungan tersebut sederhana, tetapi dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi bisnis.
4. Jangan Menganggap Semua Penjualan sebagai Uang yang Sudah Diterima
Ini kesalahan yang cukup umum.
Misalnya:
Penjualan bulan ini:
Rp30 juta
Tetapi:
Rp15 juta belum dibayar pelanggan.
Artinya uang yang benar-benar masuk baru Rp15 juta.
Karena itu, catat:
Penjualan
dan
uang yang sudah diterima
sebagai informasi yang berbeda.
5. Pantau Piutang
Jika bisnis memberikan pembayaran tempo, catat:
- Nama pelanggan.
- Nilai transaksi.
- Tanggal transaksi.
- Tanggal jatuh tempo.
- Status pembayaran.
Dengan begitu, pemilik usaha dapat mengetahui berapa uang yang masih berada di luar bisnis.
6. Buat Proyeksi Cash Flow
Jangan hanya melihat kondisi bulan ini.
Coba buat proyeksi sederhana untuk beberapa bulan ke depan.
Misalnya:
Oktober
Masuk Rp20 juta
Keluar Rp15 juta
November
Masuk Rp25 juta
Keluar Rp18 juta
Desember
Masuk Rp35 juta
Keluar Rp28 juta
Dari proyeksi tersebut, pemilik usaha dapat melihat kapan bisnis membutuhkan tambahan dana.
7. Siapkan Dana Cadangan Bisnis
Sama seperti keuangan pribadi, bisnis juga membutuhkan cadangan.
Dana tersebut dapat digunakan ketika:
- Penjualan turun.
- Pelanggan terlambat membayar.
- Harga bahan meningkat.
- Mesin rusak.
- Ada kebutuhan operasional mendadak.
Jumlah idealnya bergantung pada jenis dan skala bisnis.
Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua usaha.
8. Hati-Hati Mengambil Pembiayaan
Ketika cash flow terganggu, pemilik bisnis mungkin mempertimbangkan pinjaman.
Sebelum mengambil pembiayaan, hitung:
Berapa dana yang dibutuhkan?
Untuk apa dana digunakan?
Kapan dana menghasilkan kembali?
Berapa kewajiban pembayarannya?
Bagaimana jika penjualan turun?
Koperasi dapat menjadi salah satu alternatif sumber layanan keuangan bagi anggota, termasuk untuk kebutuhan produktif sesuai ketentuan koperasi.
Namun, pembiayaan tetap perlu dihitung berdasarkan kemampuan bisnis.
9. Gunakan Pembiayaan untuk Aktivitas Produktif
Contohnya:
Modal Rp20 juta
digunakan untuk membeli mesin.
Jika mesin meningkatkan kapasitas produksi dan menghasilkan tambahan pendapatan, maka penggunaan dana tersebut dapat dievaluasi secara lebih terukur.
Sebaliknya, menggunakan pembiayaan untuk pengeluaran yang tidak memberikan manfaat bisnis perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
10. Manfaatkan Teknologi
Saat ini banyak alat yang dapat membantu pemilik bisnis memantau cash flow.
Contohnya:
- Spreadsheet.
- Software akuntansi.
- Aplikasi kasir.
- Mobile banking.
- Payment gateway.
- Dashboard bisnis.
Koperasi juga semakin memanfaatkan teknologi.
Dengan sistem koperasi digital, anggota dapat memperoleh akses informasi transaksi dan layanan tertentu secara lebih praktis.
Untuk memahami bagaimana teknologi dapat mengubah pelayanan koperasi, baca:
Cara Koperasi Meningkatkan Pelayanan Anggota dengan Digitalisasi
11. Buat Laporan Cash Flow Sederhana
Tidak perlu menunggu memiliki bisnis besar.
Buat laporan sederhana:
Uang Masuk
Rp30 juta
Uang Keluar
Rp22 juta
Cash Flow
Rp8 juta
Kemudian tambahkan:
Saldo awal: Rp10 juta
Saldo akhir: Rp18 juta
Dengan angka tersebut, Anda dapat mengetahui berapa uang yang tersedia untuk menjalankan bisnis.
12. Evaluasi Setiap Minggu
Jangan hanya melakukan evaluasi setahun sekali.
Untuk bisnis kecil, evaluasi mingguan dapat membantu.
Tanyakan:
- Berapa uang masuk minggu ini?
- Berapa uang keluar?
- Siapa yang belum membayar?
- Pengeluaran apa yang meningkat?
- Apa kebutuhan minggu depan?
- Apakah saldo cukup?
Dengan kebiasaan tersebut, masalah cash flow dapat diketahui lebih awal.
Cash Flow Positif Tidak Berarti Bisnis Tanpa Risiko
Walaupun cash flow positif, bisnis tetap dapat menghadapi masalah.
Misalnya:
- Hutang besar.
- Piutang tinggi.
- Penjualan tidak stabil.
- Margin keuntungan rendah.
- Ketergantungan pada satu pelanggan.
Karena itu, cash flow hanya salah satu indikator dalam melihat kondisi bisnis.
Hubungan Cash Flow dengan Literasi Keuangan
Pemilik usaha membutuhkan literasi keuangan untuk memahami angka-angka bisnis.
Tidak harus menjadi akuntan.
Namun setidaknya perlu memahami:
- Pendapatan.
- Biaya.
- Laba.
- Cash flow.
- Piutang.
- Hutang.
- Modal kerja.
Pemahaman tersebut dapat membantu pemilik usaha membuat keputusan dengan lebih terukur.
Checklist Cash Flow Bisnis
- Uang pribadi dan bisnis sudah dipisahkan.
- Semua pemasukan dicatat.
- Semua pengeluaran dicatat.
- Piutang dipantau.
- Hutang dicatat.
- Ada proyeksi cash flow.
- Ada dana cadangan.
- Pembiayaan dihitung berdasarkan kemampuan.
- Cash flow dievaluasi secara rutin.
- Data keuangan disimpan dengan aman.
Kesimpulan
Cash flow merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan bisnis.
Bisnis tidak hanya membutuhkan penjualan, tetapi juga membutuhkan ketersediaan uang untuk membayar kebutuhan operasional.
Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan keuangan pribadi, memantau piutang, membuat proyeksi, serta menggunakan pembiayaan secara bertanggung jawab, pemilik usaha dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan bisnis.
Teknologi juga dapat membantu membuat proses tersebut menjadi lebih sederhana.
Kenali Solusi Koperasi Digital untuk Kebutuhan Bisnis
Bagi pelaku usaha, akses terhadap layanan keuangan dan informasi yang mudah digunakan dapat menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang lebih modern.
Koperasi juga terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi untuk memberikan layanan yang lebih praktis kepada anggota.
Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh bagaimana KSPku.id menghadirkan solusi koperasi modern dan layanan digital untuk kebutuhan anggota maupun bisnis, kunjungi:
KSPku.id
Temukan informasi dan solusi yang relevan untuk kebutuhan keuangan dan bisnis Anda.
