Bayar makan menggunakan QRIS, menerima transfer melalui mobile banking, menyimpan uang di rekening digital, hingga menggunakan e-wallet untuk berbagai kebutuhan kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Cara masyarakat Indonesia bertransaksi juga semakin berubah. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026, sementara transaksi QRIS tumbuh 82,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perubahan ini memberikan banyak kemudahan. Namun, semakin mudah seseorang melakukan transaksi, semakin penting pula kemampuan untuk mengelola keuangannya.
Pertanyaannya: apakah kita benar-benar lebih mudah mengatur uang ketika semuanya sudah digital?
Apa Itu Era Cashless?
Cashless berarti melakukan transaksi tanpa menggunakan uang tunai secara langsung.
Beberapa contoh yang mungkin sudah sering Anda gunakan antara lain:
- QRIS
- Mobile banking
- Internet banking
- E-wallet
- Kartu debit
- Kartu kredit
- Transfer antarbank
- BI-FAST
Bagi konsumen, metode ini membuat pembayaran menjadi cepat dan praktis.
Bagi pelaku usaha, pembayaran digital juga dapat membantu memperluas pilihan pembayaran bagi pelanggan.
Bank Indonesia bahkan mencatat bahwa hingga Juni 2026 QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68% merchant tersebut merupakan UMKM.
Kemudahan Digital Bisa Membuat Kita Lebih Boros
Ada sisi lain dari kemudahan pembayaran digital.
Ketika membayar menggunakan uang tunai, kita dapat melihat secara langsung uang yang berkurang dari dompet.
Pada transaksi digital, prosesnya terasa lebih “tidak terlihat”.
Klik.
Scan.
Konfirmasi.
Selesai.
Kemudahan tersebut dapat membuat seseorang melakukan transaksi lebih sering tanpa menyadari jumlah total pengeluaran.
Misalnya, transaksi Rp20.000 atau Rp30.000 mungkin terasa kecil.
Namun, jika dilakukan berkali-kali dalam satu minggu, jumlahnya dapat menjadi cukup besar dalam satu bulan.
Karena itu, cashless seharusnya tidak berarti cashless dari pencatatan.
Pisahkan Rekening Berdasarkan Tujuan
Salah satu cara sederhana untuk mengelola keuangan digital adalah memisahkan uang berdasarkan fungsinya.
Misalnya:
Rekening utama
Untuk menerima pendapatan dan membayar kebutuhan utama.
Rekening tabungan
Untuk tujuan finansial tertentu.
Dana darurat
Untuk kebutuhan yang tidak terduga.
Dompet digital
Untuk transaksi harian dengan batas tertentu.
Tidak harus memiliki banyak rekening.
Yang terpenting adalah mengetahui fungsi setiap tempat penyimpanan uang.
Tetapkan Batas Pengeluaran Digital
Aplikasi pembayaran membuat transaksi menjadi sangat mudah.
Karena itu, buat batas untuk pengeluaran tertentu.
Contohnya:
- Makan di luar: maksimal Rp500.000 per bulan
- Hiburan: maksimal Rp300.000
- Belanja online: maksimal Rp500.000
- Transportasi: sesuai kebutuhan
Nominalnya tentu berbeda untuk setiap orang.
Tujuannya bukan membatasi semua kesenangan, tetapi memastikan pengeluaran tetap sesuai dengan kemampuan.
Periksa Riwayat Transaksi Secara Rutin
Jangan hanya memeriksa saldo.
Periksa juga riwayat transaksi.
Luangkan waktu sekitar 15–30 menit setiap minggu untuk melihat:
- Apa saja yang dibeli?
- Berapa total pengeluaran?
- Pengeluaran terbesar ada di mana?
- Apakah ada transaksi yang tidak dikenali?
- Apakah ada langganan yang sudah tidak digunakan?
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu Anda memahami pola keuangan dengan lebih baik.
Waspadai Penipuan Digital
Kemudahan transaksi digital juga harus diikuti dengan kewaspadaan.
Jangan pernah memberikan:
- PIN
- Password
- OTP
- Kode keamanan
- Data login
- Informasi kartu
kepada orang lain.
Waspadai pula pesan yang meminta Anda mengklik tautan atau mengirimkan data dengan alasan hadiah, promo, pengembalian dana, atau masalah rekening.
Jika merasa ada transaksi mencurigakan, segera hubungi penyedia layanan melalui kanal resminya.
Bagaimana dengan Koperasi?
Digitalisasi pembayaran juga dapat memberikan peluang bagi koperasi.
Koperasi dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kemudahan layanan kepada anggota, misalnya melalui:
- Pembayaran digital
- Informasi saldo
- Riwayat transaksi
- Pembayaran angsuran
- Pengajuan layanan secara digital
- Penyampaian informasi kepada anggota
Bagi koperasi, digitalisasi bukan hanya soal mengikuti tren.
Data transaksi dan pencatatan digital juga dapat membantu membangun proses administrasi yang lebih rapi.
Tips Mengatur Keuangan di Era Cashless
Coba terapkan lima kebiasaan berikut:
1. Catat semua transaksi
Termasuk transaksi kecil.
2. Tentukan budget mingguan
Jangan hanya membuat anggaran bulanan.
3. Pisahkan uang berdasarkan tujuan
Agar uang tabungan tidak mudah terpakai.
4. Evaluasi langganan digital
Hapus layanan yang jarang digunakan.
5. Jangan menyimpan semua uang di satu tempat
Atur penyimpanan berdasarkan kebutuhan dan tujuan.
Penutup
Teknologi membuat aktivitas keuangan menjadi semakin mudah.
Namun, kemudahan transaksi tidak otomatis membuat kondisi keuangan menjadi lebih sehat.
Justru ketika hampir semua pembayaran dapat dilakukan hanya dengan smartphone, kemampuan untuk mencatat, membatasi, dan mengevaluasi pengeluaran menjadi semakin penting.
Gunakan teknologi sebagai alat untuk mengelola uang, bukan sebagai alasan untuk menghabiskan uang lebih cepat.
Cashless boleh. Keuangan tetap harus terkontrol.
