Pajak kendaraan jatuh tempo tiga bulan lagi, anak masuk sekolah tahun depan, laptop yang digunakan bekerja kemungkinan perlu diganti, hari raya datang setiap tahun, rumah juga membutuhkan pengecatan ulang beberapa tahun sekali. Semua kebutuhan tersebut dapat memerlukan uang cukup besar. Namun sebenarnya sebagian besar bukan kejadian yang benar-benar mengejutkan.
Kita tahu kebutuhan itu akan datang.
Masalahnya, sering kali uang baru dipikirkan ketika tanggal pembayarannya sudah dekat.
Di sinilah sinking fund dapat membantu.
Apa Itu Sinking Fund?
Sinking fund adalah dana yang dikumpulkan secara bertahap untuk membayar kebutuhan tertentu yang sudah dapat diperkirakan di masa depan.
Sederhananya:
Anda mengetahui apa kebutuhannya, memperkirakan kapan uang dibutuhkan, lalu menyisihkan dana sedikit demi sedikit sebelum waktunya tiba.
Misalnya pajak kendaraan diperkirakan Rp3.600.000 dan masih sembilan bulan lagi.
Daripada mencari Rp3.600.000 sekaligus saat jatuh tempo, Anda dapat menyisihkan:
Rp3.600.000 ÷ 9 = Rp400.000 per bulan
Ketika tanggal pembayaran tiba, dananya sudah tersedia.
Apa Bedanya Sinking Fund dengan Dana Darurat?
Keduanya sama-sama berupa dana yang disiapkan sebelum digunakan, tetapi tujuannya berbeda.
| Sinking Fund | Dana Darurat |
|---|---|
| Untuk kebutuhan yang sudah dapat diperkirakan | Untuk kejadian yang tidak direncanakan |
| Ada tujuan spesifik | Digunakan untuk keadaan mendesak |
| Biasanya memiliki target waktu | Waktu penggunaannya tidak diketahui |
| Contoh: pajak kendaraan | Contoh: kehilangan pekerjaan |
| Contoh: biaya sekolah | Contoh: kebutuhan kesehatan mendadak |
| Contoh: servis besar kendaraan | Contoh: perbaikan rumah akibat kejadian tak terduga |
Perbedaan sederhananya dapat dirangkum seperti ini:
Jika Anda sudah tahu pengeluaran itu akan datang, kemungkinan besar dana tersebut lebih tepat dipersiapkan sebagai sinking fund daripada menunggu mengambilnya dari dana darurat.
Untuk memahami fungsi dana darurat secara lebih lengkap, baca Dana Darurat: Berapa yang Ideal dan Bagaimana Cara Mulainya?.
Contoh Kebutuhan yang Bisa Menggunakan Sinking Fund
Sinking fund dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan yang waktunya relatif dapat diprediksi.
Kebutuhan Kendaraan
Misalnya:
- pajak tahunan;
- servis besar;
- penggantian ban;
- perpanjangan dokumen;
- atau rencana membeli kendaraan beberapa tahun lagi.
Kebutuhan Rumah
Contohnya:
- pengecatan;
- renovasi kecil;
- penggantian peralatan rumah;
- perawatan AC;
- atau membeli furnitur.
Pendidikan
Misalnya:
- uang pangkal;
- seragam;
- buku;
- laptop;
- atau biaya masuk jenjang pendidikan berikutnya.
Pengeluaran Tahunan
Contohnya:
- hari raya;
- mudik;
- hadiah keluarga;
- liburan;
- pembayaran keanggotaan tahunan;
- atau premi tertentu.
Tidak semua kebutuhan harus mempunyai sinking fund sendiri. Gunakan untuk pengeluaran yang cukup besar sehingga dapat mengganggu anggaran bulanan jika dibayar sekaligus.
Cara Menghitung Sinking Fund
Rumus dasarnya sangat sederhana:
Target Dana ÷ Jumlah Bulan yang Tersisa = Setoran Bulanan
Misalnya Anda ingin menyiapkan dana Rp6.000.000 untuk kebutuhan rumah 12 bulan lagi.
Perhitungannya:
Rp6.000.000 ÷ 12 = Rp500.000 per bulan
Artinya, jika mulai sekarang dan targetnya tidak berubah, Anda perlu menyisihkan sekitar Rp500.000 setiap bulan.
Contoh dengan Beberapa Target Sekaligus
Misalnya sebuah keluarga mempunyai kebutuhan berikut:
| Tujuan | Target | Waktu Tersisa | Setoran/Bulan |
|---|---|---|---|
| Pajak kendaraan | Rp3.600.000 | 9 bulan | Rp400.000 |
| Hari raya | Rp6.000.000 | 6 bulan | Rp1.000.000 |
| Laptop kerja | Rp9.000.000 | 18 bulan | Rp500.000 |
| Servis rumah | Rp4.800.000 | 12 bulan | Rp400.000 |
Total setoran sinking fund:
Rp2.300.000 per bulan
Dari sini muncul pertanyaan penting:
Apakah anggaran bulanan mampu menyisihkan Rp2,3 juta?
Jika tidak, Anda tidak harus memaksakan semua target sekaligus.
Tentukan Prioritas
Bedakan antara kebutuhan yang benar-benar penting dengan keinginan yang masih dapat berubah.
Misalnya:
pajak kendaraan jatuh tempo sembilan bulan lagi;
laptop kerja sudah sering bermasalah;
liburan masih bersifat pilihan.
Dalam kondisi anggaran terbatas, pajak dan perangkat kerja mungkin mempunyai prioritas lebih tinggi.
Sinking fund bukan tentang menabung untuk sebanyak mungkin tujuan. Tujuannya adalah membuat pengeluaran yang dapat diprediksi tidak berubah menjadi masalah keuangan mendadak.
Mulai dari Pengeluaran Tahunan
Jika baru pertama menggunakan sinking fund, jangan membuat sepuluh pos sekaligus.
Mulailah dari pengeluaran tahunan yang paling mudah diprediksi.
Misalnya:
pajak kendaraan;
hari raya;
biaya sekolah;
servis kendaraan.
Catat berapa biaya terakhir yang Anda keluarkan.
Kemudian perkirakan target tahun berikutnya.
Setelah sistem sederhana tersebut berjalan, tambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.
Di Mana Sinking Fund Sebaiknya Disimpan?
Tempat penyimpanan harus disesuaikan dengan kapan dana akan digunakan.
Untuk target jangka dekat, hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah:
- mudah dipantau;
- tidak tercampur dengan uang belanja;
- dapat diakses ketika jatuh tempo;
- serta risikonya sesuai dengan jangka waktu.
Anda dapat menggunakan rekening terpisah, fitur kantong atau pos keuangan, atau produk simpanan yang karakteristiknya sesuai.
Jangan memilih tempat penyimpanan hanya karena menawarkan potensi hasil paling tinggi.
Jika uang akan digunakan beberapa bulan lagi, kemudahan akses dan kepastian kebutuhan juga penting.
Haruskah Membuka Banyak Rekening?
Tidak selalu.
Anda dapat menggunakan satu rekening khusus lalu mencatat beberapa pos di spreadsheet.
Contohnya:
Saldo rekening sinking fund: Rp12.000.000
Terdiri dari:
Pajak kendaraan: Rp3.000.000
Hari raya: Rp4.000.000
Laptop: Rp3.500.000
Perawatan rumah: Rp1.500.000
Total: Rp12.000.000
Dengan pencatatan tersebut, Anda mengetahui fungsi setiap bagian saldo.
Yang penting jangan melihat Rp12 juta sebagai uang bebas untuk dibelanjakan.
Gunakan Transfer Otomatis setelah Gajian
Sinking fund lebih mudah dibangun jika penyisihan dilakukan sebelum uang digunakan untuk kebutuhan lain.
Misalnya gajian tanggal 25.
Atur transfer tanggal 26:
Rp400.000 → pajak kendaraan
Rp500.000 → laptop
Rp600.000 → kebutuhan tahunan
Dengan begitu Anda tidak bergantung pada pertanyaan:
“Apakah akhir bulan nanti masih ada sisa?”
Sinking fund sudah menjadi bagian dari anggaran sejak awal.
Baca juga Cara Mengatur Keuangan Bulanan agar Tidak Habis Sebelum Akhir Bulan untuk menyusun pos pengeluaran secara lebih menyeluruh.
Bagaimana Jika Target Berubah?
Target perlu dievaluasi.
Misalnya Anda memperkirakan pajak dan kebutuhan kendaraan sebesar Rp4 juta.
Setelah diperiksa, ternyata estimasi baru menjadi Rp4,5 juta.
Jika masih tersisa lima bulan dan dana yang terkumpul Rp2 juta:
Kekurangan:
Rp4.500.000 – Rp2.000.000 = Rp2.500.000
Setoran baru:
Rp2.500.000 ÷ 5 = Rp500.000 per bulan
Perhitungan seperti ini membantu menghindari kekurangan dana mendekati jatuh tempo.
Bagaimana Jika Tidak Mampu Mencapai Target?
Ada empat pilihan dasar:
Kurangi Target
Mungkin kebutuhan tersebut dapat dilakukan dengan anggaran lebih kecil.
Perpanjang Waktu
Jika tanggalnya fleksibel, mundurkan target.
Tambah Setoran dari Pendapatan Tambahan
Gunakan sebagian bonus, THR, komisi, atau pendapatan sampingan.
Prioritaskan Tujuan yang Lebih Penting
Tidak semua target harus berjalan bersamaan.
Jangan mengambil utang secara otomatis hanya karena sinking fund tidak mencapai target untuk kebutuhan yang sebenarnya masih dapat ditunda.
Sinking Fund Membantu Mengurangi Ketergantungan pada Cicilan
Misalnya Anda sudah mengetahui dua tahun lagi kemungkinan harus mengganti laptop kerja seharga sekitar Rp12 juta.
Jika mulai menabung hari ini:
Rp12.000.000 ÷ 24 = Rp500.000 per bulan
Ketika waktunya tiba, Anda mempunyai pilihan lebih besar.
Bandingkan jika sama sekali tidak mempersiapkan dana lalu laptop rusak.
Anda mungkin harus menggunakan kartu kredit, paylater, atau pinjaman karena kebutuhannya sudah mendesak.
Sinking fund tidak menghilangkan seluruh kebutuhan pinjaman, tetapi dapat mengurangi kebutuhan berutang untuk pengeluaran yang sebenarnya sudah bisa diprediksi.
Jangan Menyebut Semua Tabungan sebagai Sinking Fund
Tabungan biasa dapat tidak mempunyai tujuan tertentu.
Sinking fund mempunyai:
tujuan;
nominal target;
dan biasanya target waktu.
Misalnya:
“Saya menabung Rp500.000.”
Itu belum tentu sinking fund.
Bandingkan:
“Saya menyisihkan Rp500.000 per bulan selama 12 bulan untuk membayar biaya sekolah Rp6 juta.”
Ini jauh lebih jelas.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Menggunakan Dana untuk Tujuan Lain
Sinking fund kendaraan dipakai membeli gadget karena saldonya terlihat cukup besar.
Akibatnya ketika pajak jatuh tempo, uang sudah tidak tersedia.
Membuat Terlalu Banyak Target
Anggaran menjadi terlalu sempit karena semua keinginan dibuat menjadi sinking fund.
Tidak Memperbarui Estimasi
Biaya tahun depan diasumsikan sama persis dengan biaya tiga tahun lalu.
Menggabungkan dengan Dana Darurat
Ketika pengeluaran terencana datang, dana darurat terus terkuras.
Tidak Mencatat Saldo per Tujuan
Ada satu rekening dengan saldo besar tetapi tidak diketahui berapa yang sebenarnya boleh digunakan.
Checklist Membuat Sinking Fund
- Daftar pengeluaran besar yang dapat diprediksi.
- Tentukan mana yang benar-benar penting.
- Perkirakan nominal target.
- Tentukan kapan dana dibutuhkan.
- Hitung setoran bulanan.
- Pisahkan dari uang belanja.
- Bedakan dari dana darurat.
- Gunakan transfer otomatis bila memungkinkan.
- Perbarui estimasi secara berkala.
- Jangan menggunakan dana untuk tujuan lain tanpa mengevaluasi konsekuensinya.
Kesimpulan
Sinking fund membantu mengubah pengeluaran besar menjadi setoran kecil yang lebih mudah dikelola.
Prinsip dasarnya sederhana:
ketahui kebutuhannya;
tentukan target;
tentukan waktunya;
lalu cicil tabungannya, bukan cicil barangnya.
Tidak semua kebutuhan bisa diprediksi. Untuk kondisi benar-benar tak terduga, dana darurat tetap mempunyai fungsi tersendiri.
Namun untuk pajak, pendidikan, servis, hari raya, atau kebutuhan tahunan lainnya, sinking fund dapat membuat keuangan jauh lebih siap sebelum tanggal pembayaran datang.
Artikel ini bersifat edukatif. Nominal target dan pilihan tempat penyimpanan dana perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, kebutuhan, jangka waktu, serta profil risiko masing-masing.
