KoperasiSimpanPinjam.com

Cara Menghitung HPP dan Harga Jual Produk untuk UMKM agar Tidak Salah Pasang Harga

Keuangan• Published 1 Oct, 2026• Read time 7 min
Cara Menghitung HPP dan Harga Jual Produk untuk UMKM agar Tidak Salah Pasang Harga

Produk Anda laku. Pesanan terus masuk. Omzet bertambah.

Tetapi ketika akhir bulan tiba, uang yang tersisa ternyata sangat sedikit.

Salah satu penyebab yang cukup umum adalah harga jual ditentukan tanpa mengetahui biaya sebenarnya untuk menghasilkan produk tersebut.

Banyak pemilik usaha menentukan harga dengan cara sederhana:

“Kompetitor menjual Rp25.000, saya jual Rp23.000.”

atau:

“Bahan bakunya Rp10.000, kalau dijual Rp15.000 berarti untung Rp5.000.”

Padahal masih ada kemasan, tenaga kerja, gas, listrik, ongkir bahan, biaya marketplace, barang rusak, dan berbagai biaya lainnya.

Di sinilah pemilik usaha perlu memahami HPP atau Harga Pokok Penjualan.

Apa Itu HPP?

Secara sederhana, HPP adalah biaya yang berkaitan dengan barang atau produk yang dijual.

Untuk usaha produksi sederhana, perhitungan dapat dimulai dari:

bahan baku + tenaga kerja langsung + biaya produksi lain yang dialokasikan

Struktur sebenarnya dapat berbeda sesuai jenis usaha.

Usaha makanan mempunyai komponen biaya yang berbeda dengan konveksi, kerajinan, reseller, atau jasa.

Karena itu tujuan artikel ini bukan menggantikan pencatatan akuntansi profesional.

Tujuannya membantu UMKM memahami prinsip dasarnya agar tidak menentukan harga hanya berdasarkan perkiraan.

Contoh Paling Sederhana: Usaha Brownies

Misalnya satu kali produksi menghasilkan 20 kotak brownies.

Biaya bahan:

Tepung: Rp40.000

Cokelat: Rp80.000

Telur: Rp45.000

Mentega: Rp50.000

Gula dan bahan lainnya: Rp35.000

Total bahan:

Rp250.000

Jika berhenti di sini, biaya per kotak terlihat:

Rp250.000 ÷ 20 = Rp12.500

Namun itu belum HPP yang lengkap.

Masih ada biaya lainnya.

Masukkan Kemasan

Misalnya:

Kotak: Rp2.500 × 20 = Rp50.000

Stiker: Rp500 × 20 = Rp10.000

Plastik: Rp500 × 20 = Rp10.000

Total kemasan:

Rp70.000

Sekarang total biaya menjadi:

Rp250.000 + Rp70.000 = Rp320.000

Biaya per kotak:

Rp320.000 ÷ 20 = Rp16.000

Namun masih belum selesai.

Hitung Tenaga Kerja

Kesalahan yang sering terjadi pada usaha kecil adalah menganggap waktu pemilik usaha gratis.

“Kan saya sendiri yang membuat, jadi tidak ada biaya pegawai.”

Secara kas memang Anda mungkin belum membayar pegawai.

Namun waktu yang digunakan untuk produksi tetap mempunyai nilai ekonomi.

Jika bisnis berkembang, suatu saat pekerjaan tersebut mungkin harus dilakukan pegawai.

Misalnya Anda mengalokasikan biaya tenaga kerja produksi:

Rp80.000 untuk satu batch

Maka:

Rp320.000 + Rp80.000 = Rp400.000

Biaya per kotak sekarang:

Rp400.000 ÷ 20 = Rp20.000

Masukkan Biaya Produksi Lain

Contohnya:

Gas: Rp20.000

Listrik: Rp15.000

Penyusutan/perawatan peralatan yang dialokasikan: Rp10.000

Bahan pembersih dan kebutuhan produksi: Rp5.000

Total:

Rp50.000

Maka total biaya produksi menjadi:

Rp400.000 + Rp50.000 = Rp450.000

Untuk 20 kotak:

HPP sederhana per kotak = Rp22.500

Sekarang barulah terlihat bahwa harga Rp23.000 hampir tidak memberikan ruang keuntungan.

Rumus Sederhana

Untuk produksi sederhana, Anda dapat menggunakan pendekatan:

HPP per unit = Total biaya yang dialokasikan untuk menghasilkan produk ÷ Jumlah unit yang dihasilkan

Contoh:

Total biaya produksi = Rp450.000

Produk jadi = 20 kotak

HPP:

Rp450.000 ÷ 20 = Rp22.500 per kotak

Ini menjadi dasar untuk menentukan harga jual.

HPP Bukan Harga Jual

Ini bagian yang sangat penting.

Jika HPP Rp22.500 lalu produk dijual Rp22.500, Anda tidak mendapatkan margin untuk membiayai berbagai kebutuhan usaha lainnya.

Masih dapat ada:

  • biaya pemasaran;
  • administrasi;
  • internet;
  • sewa;
  • biaya transaksi;
  • promosi;
  • produk rusak;
  • retur;
  • diskon;
  • pajak atau kewajiban lain yang relevan;
  • serta keuntungan usaha.

Karena itu harga jual harus berada di atas biaya yang perlu ditutup bisnis.

Bagaimana Menentukan Margin?

Misalnya HPP Rp22.500.

Anda ingin menambahkan margin sederhana 30% dari HPP.

Perhitungannya:

30% × Rp22.500 = Rp6.750

Harga:

Rp22.500 + Rp6.750 = Rp29.250

Anda dapat membulatkan sesuai strategi harga, misalnya Rp29.500 atau Rp30.000.

Namun jangan langsung berhenti.

Periksa apakah masih ada biaya penjualan lainnya.

Waspadai Perbedaan Margin dan Markup

Dua istilah ini sering dianggap sama.

Misalnya:

HPP: Rp80.000

Harga jual: Rp100.000

Keuntungan kotor: Rp20.000

Jika menghitung markup terhadap HPP:

Rp20.000 ÷ Rp80.000 = 25%

Namun jika menghitung margin terhadap harga jual:

Rp20.000 ÷ Rp100.000 = 20%

Angkanya berbeda.

Karena itu ketika seseorang mengatakan:

“Margin saya 25%”

pastikan maksudnya benar-benar margin atau sebenarnya markup.

Masukkan Biaya Marketplace

Jika menjual melalui marketplace atau platform delivery, harga offline dan online belum tentu dapat diperlakukan sama.

Misalnya harga produk:

Rp30.000

Platform mengenakan berbagai biaya yang secara total, sebagai contoh ilustratif, menjadi Rp4.000 per transaksi.

Uang yang masuk bukan lagi Rp30.000.

Tetapi sekitar:

Rp26.000

Jika HPP produk Rp22.500, selisihnya hanya Rp3.500 sebelum biaya lainnya.

Karena itu selalu gunakan biaya platform yang benar-benar berlaku pada akun Anda, bukan perkiraan dari teman.

Biaya platform dapat berubah.

Jangan Lupa Diskon

Misalnya harga normal Rp40.000.

Anda sering memberikan diskon 25%.

Harga setelah diskon:

Rp30.000

Jika HPP Rp28.000, promosi tersebut hanya menyisakan Rp2.000 sebelum biaya lain.

Inilah alasan diskon sebaiknya diperhitungkan sejak awal.

Jangan membuat promosi hanya berdasarkan:

“25% terlihat menarik.”

Hitung dampaknya terhadap keuntungan.

Bedakan Omzet dan Laba

Misalnya dalam sebulan Anda menjual:

1.000 produk × Rp30.000 = Rp30 juta omzet

Rp30 juta bukan berarti Anda memperoleh keuntungan Rp30 juta.

Jika HPP total Rp20 juta, masih tersisa:

Rp10 juta.

Namun dari angka tersebut mungkin masih harus dibayar:

sewa;

marketing;

administrasi;

internet;

gaji non-produksi;

transportasi;

pajak;

dan biaya lainnya.

Karena itu omzet tinggi belum tentu sama dengan laba tinggi.

Artikel Bisnis Kecil Naik Kelas: 9 Cara Mengelola Keuangan UMKM agar Lebih Sehat membahas konteks pengelolaan keuangan UMKM secara lebih luas.

Bagaimana dengan Usaha Reseller?

Untuk reseller, perhitungannya sedikit berbeda.

Misalnya Anda membeli barang:

Harga beli: Rp60.000

Ongkir dari supplier per produk: Rp5.000

Kemasan: Rp3.000

Biaya handling: Rp2.000

Total biaya dasar:

Rp70.000

Jika dijual Rp75.000, jangan merasa untung Rp15.000 hanya karena harga supplier Rp60.000.

Biaya sebenarnya yang perlu ditutup sudah mencapai sekitar Rp70.000.

Hitung Produk Rusak dan Penyusutan

Pada usaha makanan atau produk tertentu, tidak seluruh bahan selalu menjadi produk yang berhasil dijual.

Misalnya dari 100 produk:

95 berhasil dijual;

5 rusak atau tidak memenuhi standar.

Jika seluruh biaya dibagi 100 padahal hanya 95 yang menghasilkan penjualan, HPP dapat terlihat terlalu rendah.

Untuk usaha dengan tingkat waste tertentu, catat kerusakan dan kehilangan bahan.

Semakin besar skala usaha, semakin penting informasi ini.

Buat Spreadsheet HPP Sederhana

Anda dapat memulai dengan kolom:

Komponen Biaya
Bahan baku Rp250.000
Kemasan Rp70.000
Tenaga kerja produksi Rp80.000
Gas & listrik Rp35.000
Biaya produksi lainnya Rp15.000
Total Rp450.000
Jumlah produk 20
HPP/unit Rp22.500

Buat spreadsheet terpisah untuk setiap produk utama.

Ketika harga bahan berubah, perbarui perhitungannya.

Kapan HPP Harus Dihitung Ulang?

Jangan menghitung sekali lalu digunakan selama bertahun-tahun.

Periksa kembali ketika:

  • harga bahan naik;
  • supplier berubah;
  • ukuran produk berubah;
  • kemasan berubah;
  • upah berubah;
  • biaya energi berubah;
  • proses produksi berubah;
  • atau jumlah produksi berubah signifikan.

Produk yang menguntungkan enam bulan lalu belum tentu mempunyai margin sama hari ini.

Jangan Meniru Harga Kompetitor Tanpa Mengetahui Struktur Biaya

Kompetitor dapat menjual lebih murah karena:

membeli bahan dalam volume besar;

mempunyai supplier berbeda;

memproduksi jauh lebih banyak;

mempunyai biaya sewa lebih rendah;

atau menggunakan strategi promosi tertentu.

Anda tidak mengetahui seluruh struktur bisnis mereka.

Gunakan harga pasar sebagai informasi.

Namun gunakan biaya bisnis sendiri sebagai dasar perhitungan.

Bagaimana Jika Harga Ideal Lebih Tinggi dari Pasar?

Misalnya HPP Anda Rp25.000.

Agar bisnis mempunyai ruang margin, harga ideal menurut perhitungan menjadi Rp35.000.

Namun kompetitor menjual produk serupa Rp28.000.

Jangan langsung menurunkan harga menjadi Rp28.000.

Cari tahu:

Apakah biaya bahan terlalu tinggi?

Apakah kemasan terlalu mahal?

Apakah produksi terlalu kecil?

Apakah ada pemborosan?

Apakah produk mempunyai diferensiasi yang membuat pelanggan bersedia membayar lebih?

Atau apakah model bisnis memang belum efisien?

Harga pasar dapat menjadi sinyal bahwa struktur biaya perlu diperiksa.

Jika setiap produk sebenarnya merugi, tambahan modal hanya memperpanjang masalah.

Misalnya setiap penjualan menghasilkan kerugian Rp2.000.

Menjual lebih banyak justru berarti kehilangan uang lebih banyak.

Karena itu sebelum mengambil pembiayaan untuk meningkatkan produksi, pastikan:

HPP sudah diketahui;

harga jual masuk akal;

margin tersedia;

permintaan pasar ada;

dan arus kas mampu memenuhi kewajiban.

Jika membutuhkan tambahan modal setelah usaha sudah dihitung dengan baik, pelajari Koperasi untuk UMKM: 7 Manfaat Koperasi dalam Membantu Usaha Kecil Berkembang.

Jika modal berasal dari pinjaman, gunakan pula Checklist Sebelum Mengajukan Pinjaman Koperasi sebelum mengambil keputusan.

Checklist Sebelum Menentukan Harga Produk

Sebelum memasang harga, pastikan:

  1. Biaya bahan baku sudah dihitung.
  2. Kemasan sudah dimasukkan.
  3. Tenaga kerja sudah diperhitungkan.
  4. Biaya produksi lain sudah dialokasikan.
  5. Produk rusak atau waste diperhatikan.
  6. Biaya marketplace diperiksa.
  7. Efek diskon sudah dihitung.
  8. Harga kompetitor diketahui.
  9. Margin yang diinginkan jelas.
  10. Harga tetap masuk akal bagi target pelanggan.
  11. HPP diperbarui ketika biaya berubah.

Kesimpulan

Menentukan harga jual bukan sekadar:

harga bahan + sedikit keuntungan.

Bisnis perlu mengetahui biaya sebenarnya untuk menghasilkan dan menjual produk.

Mulailah dengan menghitung HPP.

Masukkan bahan baku.

Kemasan.

Tenaga kerja.

Biaya produksi.

Kemudian periksa biaya penjualan, platform, promosi, serta kebutuhan bisnis lainnya.

Setelah itu barulah menentukan margin dan harga jual.

UMKM yang mengetahui HPP tidak hanya lebih mudah menentukan harga.

Pemilik usaha juga menjadi lebih mudah mengetahui produk mana yang benar-benar menghasilkan keuntungan dan produk mana yang sebenarnya hanya menambah omzet.

Artikel ini menggunakan contoh perhitungan sederhana untuk tujuan edukasi. Struktur HPP dan pencatatan akuntansi dapat berbeda sesuai jenis serta skala usaha.